Pemikran

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juli 2017

Political Spectrum: Antara bertahan di Kanan atau Berubah ke Kiri



Tidak jarang kita mendengar istilah kelompok “kanan” dan “kiri” dalam sebuah perbincangan politik. Istilah yang banyak digunakan dalam menggambarkan kekuatan politik ini sering kali disalah tafsirkan. Kiri menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Marxisme. Saking eratnya hubungan antara ”kiri” dan Marxisme, istilah “kiri” diartikan sebagai Marxisme itu sendiri. Begitu pula dengan “kanan” yang selalu dikaitkan dengan kekuatan politik yang didasarkan pada agama.

Agak berlebihan memang menganologikan kiri=marxisme dan kanan=agama. Meski ada benarnya, tapi perlu kita ketahui bahwa tidak semua kelompok “kiri’ adalah marxis dan tidak semua kelompok “kanan”adalah agamawan. Marxis hanyalah satu diantara beberapa kelompok yang bisa dikategorkan sebagai kelompok kiri. Begitu pula dengan agamawan yang hanya menjadi satu bagian dari berbagai macam kelompok kanan.


Senin, 24 Februari 2014

Dehumanisasi Kaum Penindas. Sebuah Bentuk Pengingkaran Terhadap Fitrah Manusia


Dehumanisasi adalah sebuah proses menuju mentidakmanusiakan manusia. Dehumanisasi merupakan anonim dari humanisasi, yaitu proses memanusiakan manusia. Mungkin kita sudah sering sekali mendengar kata humanisasi akan tetapi kata dehumanisasi jarang sekali kita dengar. Humanisasi banyak kita dengar ketika berbicara mengenai pendidikan, agama, maupun ilmu-ilmu sosial. Pada tukisan ini, kita akan bersama mengulas mengenai dehumanisasi itu sendiri khusunya pada kaum penindas. Mengapa pada kaum penindas? Hal ini dikarenakan proses dehumanisasi pada kaum tertindas yang merupakan antitesesa dari kaum tertuindas sudah banyak kita ketahui. Penindasan, penghisapan, pengkebirian hak-hak, pembatasan kebebasan merupakan bentuk dari proses dehumanisasi yang dialami oleh kaum tertindas. Bentuk-bentuk tersebut sudah banyak kita ketahui di sekitar kita. Lantas bagaimana bentuk dehumanisasi pada kaum penindas? Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan kita ulas bersama pada tulisan ini.

Selasa, 11 Februari 2014

Filosofi Semar I “Urip iku Urup”


Mungkin tulisan saya kali berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya karena tulisan saya kali ini merupakan tulisan-tulisan pendek yang merupakan bagian dari tulisan-tulisan saya selanjutnya. Sebenarnya tulisan ini merupakan bentuk review dari sebuah buku karya Deny Hermawan yang berjudul “Semar & Kentut Kesayangannya”. Sesuai judulnya, buku ini tentu saja mengulas dan membahas mengenai semar dan segudang filosofinya. Akan tetapi pada tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai semar, tetapi pada tulisan ini saya akan membahas mengenai filosofi semar yang ada dalam buku karangan Deny Hermawan tersebut. Sebenarnya dalam buku tersebut, penulis mengemukakan 10 filosofi semar yang dapat kita pelajari. Karena sangat tidak enak jika mengulas semuanya secara bersamaan dalam satu tulisan, saya akan menulisnya satu per satu secara berkala.

Selasa, 24 Desember 2013

Ketika Idealisme Menjadi Egoisme. Sebuah Ironi dalam Cara Berpikir Manusia


Idealisme dan egoisme bukanlah kata yang asing bagi kita. Dalam keidupan kita sehari-hari, kita sering sekali mengucapkan kata-kata tersebut. Kata idealisme biasa kita ucapkan ketika ada seseorang yang dengan kuat mempertaankan argumentasinya atau memiliki suatu pemikiran yang kuat. Lebih tapatnya kita menyebut orang tersbut dengan julukan “idealis” yang menrupakan penggambaran orang yang memiuliki sebuah idealisme. Idealisme sendiri berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato). Secara sederhana, kita daoat mengartikan idealisme merupakan sebuah cara berpikir yang berpangku pada ide-ide dan kurang memperhatikan kondisi material dari suatu objek. Atau yang lebih sederhhana lagi, idealisme merupakan suatu pemikiran yang kuat.
Sedangkan egoisme banyak kita ucapkan ketika ada seseorang yang begitu mementingkan dirinya sendiri hingga melupakan orang lain ang ada di sekitarnya. Mungkin kalimat “yang penting saya untung” bisa kita gunakan sebagai analogi utuk menjelaskan egoisme itu sendiri. Secara epistemologi, Istilah "egoisme" berasal dari bahasa Yunani yakni ego yang berarti "Diri" atau "Saya", dan isme

Minggu, 11 Agustus 2013

Dampak Pragmatisme dalam Pembangunan Suatu Bangsa


                Industrialisasi yang terjadi di Eropa Barat dan Amerika memang banyak sekali membawa perubahan bagi kehidupan umat mannusia di muka bumi. Dari pola hidup samapai dengan pola berpikir manusia ikut berubah seiring semakin majunya industrialisasi tersebut. Munculnya berbagai aliran filsafat dan ideologi jugatidk terlepas dari perkembangan industrialisasi tersebut. Begitu pula dengan Pragmatisme yang semain hari semakin berkembang menjadi suatu metode berpikir bagi kebanyakan manusia. Lantas apa yang dimaksud dengan Pragmatisme itu sendiri? Dan apa dampaknya bagi pembangunan suatu Bangsa? Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan menjadi pokok pembahasan kali ini.
                Pragmatisme merupakan suatu metode berpikir yang lebih mengutamakan nilai praktis dari suatu objek atau keputusan yang diambilnya. Bisa dikatakan seorang Pragmatis hanya mengutamakan untung yang didapatkannya. Selain itu, dalam mencari sebuah kebenaran seorang Pragmatis